Awal Mula Terjadinya Penyakit Scholiosis-ku (part 1)

Ini kisah hidupku , berawal ketika aku duduk di bangku SMP. Pada saat itu aku masih berada di kelas delapan atau sering di sebut kelas 2 di tahun 2009. Aku sekolah di SMP islam . Sekolah yang ku masuki ini full day alias sekolah satu harian penuh . Masuk jam 07:15 pulang jam 16:30. Mungkin sampai rumah bisa sekitar jam 17:00.
 Ini awal kisah ku . aku gak tau harus memulainya dari mana, yaa.. aku hanya bisa mengutarakannya seperti     ini. Pada awal semester pertama di kelas delapan aku mulai merasakan sesuatu hal aneh terjadi padaku , aku merasa akhir akhir ini pinggangku sering sekali terasa sakit , sampai akhirnya aku mengadu kepada mamaku dan berkata " ma, pinggangku sering sakit , ini kenapa ya? " Lalu mama menjawab " mungkin karna kekurangan air putih nak..."  mungkin emang bener yang di bilang mama karna mungkin aku sekolah satu harian penuh. Dari situlah aku mulai menghabiskan air putih lebih banyak dari hari-hari sebelumnya.



 Namun , seiring waktu berjalan ,aku bertanya tanya sendiri "kenapa rasa sakit ini semakin parah ?" aku pun bingung , lalu aku menceritakanya kepada ayah . Dan ayah menyuruhku agar memeriksakannya ke dokter .
Seminggu kemudian aku dan mama pergi ke rumah sakit yang bernama Rumah Sakit Spesialis Bunda.
Awalnya kami berobat ke Dokter Umum , sang dokter bertanya "yang mananya yang sakit?" aku menjawab di pinggangku dok, sakit banget . Dokter tersebut juga gak bisa berbuat apa-apa dia hanya memberi obat penawar rasa sakit sementara dan dia mengira kalau ada syaraf yang terjepit di bagian pinggangku . Lalu dia membuat surat rujukan supaya aku ke dokter spesialis syaraf. Setelah mendapat surat rujukan itu, kamipun ke apotek untuk mengambil obatnya dan bergegas pulang , karna besok bakalan pergi ke rumah sakit lagi . Keesokan harinya , aku dan mama pergi ke rumah sakit itu lagi dan kami segera mendaftarkan diri agar mendapatkan nomor pasien. kamipun menunggu sampai nama ku di panggil untuk masuk.Setiba nama ku di panggil , aku dan mama pun masuk ke ruang praktek dokter tersebut. Dokter tersebut juga menyarankanku agar aku di rontsen terlebih dahulu agar dia tau apa yang menyebabkan rasa sakit ini. Dokternya pun membuat surat rujukan supaya aku dapat di ronsten . Setelah surat itu dibuat , aku dan mama pun di antar oleh seorang suster untuk ke ruangan rontsen tersebut agar dilakukan pemfotoan pada tulang belakang dan tulang panggul ku. *singkatcerita* akupun sudah siap di ronsten . Kata dokter yang meronstenku itu, besok di suruh balik lagi untuk mengambil hasilnya.
 *keesokan harinya .
 Aku dan mama pun kembali bergegas ke rumah sakit Spesialis bunda tersebut. Hasil ronstennya sudah siap dan kami bergegas mengambilnya dan segera mendaftarkan diri lagi agar mendapatkan nomor pasien. Setelah namaku di pangil, aku dan mama pun  masuk ke ruang dokter spesialis syaraf yang kemaren , dokter tersebut pun melihat hasilnya , dan dia gak menyangka kalau di usia ku yang masih muda aku terserang penyakit ini. Dokter berkata "ibu', anak ibu ini terserang penyakit scoliosis bu.." dengan polosnya mamaku menjawab " penyakit apa itu dok? Saya tidak mengetahuinya " Dokter berkata " pembengkokkan tulang belakang bu" mamaku menanya lagi " bagaimana cara penyembuhannya dok?" Dokter menjawab " saya juga gak tau , coba ibu' pergi ke dokter spesialis ortophedi , saya akan memberikan surat rujukan untuk anak ibu" , mama menjawab"baiklah dok" Setelah keluar dari rumah sakit aku langsung googling apa itu scoliosis, ketika aku mengetahui penyakit itu gak dapat di sembuhkan , airmataku langsung menetes tanpa sadar. kamipun pulang ke rumah lagi . Hari sudah malam, waktunya aku untuk istirahat , karna besok aku akan kembali ke rumah sakit dan menemukan dokter ahli penyakitku, yaph bener dokter ortophedi .
 *keesokan harinya.
 Mama mengajakku untuk berobat lagi, tapi entah mengapa aku gak mau, aku lelah, aku takut, semuaa perasaan bercampur aduk. Namun, dengan pangilan mama, akupun akhirnya luluh dan ikut ke rumah sakit. Sesampaunya di sana , kami mendaftarkan diri sebagai pasien namun di spesialis yang berbeda, yakni spesialis bedah orthopedi. *setelah namaku dipanggil* Aku dan mama pun masuk ke ruang praktek dokter ortophedi itu dan membawa hasil ronsten dan surat rujukan dari dokter spesialis syaraf itu. Lalu dokter itu meminta hasil ronsten itu. Dan mamaku pun memberikannya, dokter itu berkata kalau aku emang terserang penyakit scoliosis. Mamaku berkata apa sebenarnya penyakit skoliosis itu? Dojter menjawab itu sebuah kelainan pada tulang belakang yang menyebabkan tulang bengkok ke kiri atau ddan kekanan. Mamaku bertanya lagi, yang menyebabkannya itu apa? Dokter berkata bisa jadi karna faktor keturunan, dan mama membantah "tapi dok, di dalam silsilah keluarga kami belum ada yang terkena penyakit sperti ini?" Lalu dokter menenangkan mamaku dan berkata bisa jadi karna faktor buku sekolah yang di bawa anak remaja sekarang yang begitu banyak . Mamaku menjawab " anak saya emang banyak banget bawa buku sekolah sampaisampai tasnya itu berat sekali " dokter menjawab " bisa jadi itu hal yang menyebabkannya , karna biasanya scoliosis pada remaja perempuan tidak diketahui penyebab asalmulanya, yang terkenana skoliosis emg rata rata perempuan, jarang ada lakilaki yang terkena penyakit ini. Penyakin ini gak bisa di sembuhkan namun hanya bisa di cegah kelengkungannya dengan cara memakai spinal brace , untuk lebih lanjutnya saya rujuk saja ibu dan Dewi ke dokter spesialis rehabilitasi medik" Mamaku pun langsung terdiam karna sedih melihat anak perempuan satu satunya ini terkena penyakit ini. Aku pun bersedih karna tau kalau penyakit itu gak bisa di sembuhkan , lalu dokter itu menyarankanku agar aku berobat ke dokter rehabilitasi medik . Lagilagi surat rujukan dibuat untuk dokter yang selanjutnya menangani penyakitku ini. Dokter ortophedi ini bilang kalau derajat kelengkunganku gak begitu parah , tapi dia gak mau memberitahukannya, dia bilang dia gak sanggup bilang di depan pasiennya , apalagi yang masih belia sepertiku. Lalu aku di rujuk untuk ke dokter rehabilitasi medik. Akhirnya aku dan mama pulang dengan perasaan yang kurang enak. Aku bersedih , mama pun ikut bersedih. *bersambung

0 komentar:

Posting Komentar